"Tetaplah jadi manusia yang punya hari nurani." (hlm. 288) Judul: Genesis (#UnderstandingHuman series) Penulis: Indah Hanaco X Pijar Psikologi Kategori: Drama (18+) Penyunting: Grace Situngkir Penata Letak: Debora Melina Desainer Sampul: Sarah Aghnia Husna Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: 2020 ISBN: 9786230016493 Tebal: 312 Halaman *** Apa yang akan kamu lakukan jika sahabatmu adalah seorang korban pelecehan seksual? Langkah apa yang akan kamu ambil jika ternyata sahabatmu adalah seorang tersangka pelaku pemerkosaan? Atau Bisakah kamu membayangkan hidupmu akan seperti apa jika seandainya kamu menjadi korban rudapaksa? Meski sampul depan novel ini terlihat serius, aku ngga nyangka kalau isinya memang se-serius itu. Novel ini bisa kubilang kaya, banyak tema menarik yang muncul dan semuanya terbilang tema serius yang aku sendiri jarang membaca buku dengan tema-tema ini berada dalam satu buku. Beberapa bahasan tersebut diantaranya KDRT, ‘sisi gelap’ kehidu...
Sekian lama sendiri tanpa pasangan, aku selalu penasaran apakah nantinya aku bisa jatuh cinta lagi seperti waktu aku di usia belia? Apakah rasanya akan sama? Apakah kupu-kupu di dalam perut itu akan terasa lagi? Tapi aku gak pernah memikirkan bahwa bersamaan dengan jatuh hati pada seseorang, akan ada risiko kembali patah hati. Atau sebenarnya alam bawah sadarku telalu menyadari risiko itu hingga menyetirku menjadi seorang yang terlalu takut memulai suatu hubungan baru? Setelah berhari-hari merasa gamang, kemudian lega karena mendapatkan sebuah ketegasan, hari ini aku mengakui kalau aku patah hati. Aku mencoba berpikir tentang apa yang kurasakan dan alasan mengapa aku bisa merasa sedih (padahal sebelumnya aku merasa lega). Mungkin aku memang harus mengakui kalau ini adalah patah hati. Sebab patah hati, aku jadi ingin menangis. Sebab patah hati, aku jadi gak bergairah. Sebab patah hati, aku selalu menemukan celah untuk memikirkan alasan yang membuat aku patah hati. Tapi yang gak ak...
Pernahkah kamu terbangun di pagi hari tetapi di saat itu pula kamu menggerutu, mengomel pada tubuhmu yang tidak pengertian karena bisa-bisanya kamu terbangun pagi ini padahal di pikiranmu kamu butuh lebih banyak waktu tidur? Ini memang belum akhir pekan, tapi ini sudah hari Jum’at. Sedikit terlambat sepertinya tidak apa-apa. Aku meringkuk, memeluk selimut yang tidak berfungsi sebagai penghangat tubuh melainkan sebagai teman berpelukan yang tidak memelukku balik. Mencoba terpejam lagi tapi telingaku sudah aktif bekerja, mendengar tiap gelombang suara yang datang dari sekitar. Entah mengapa detik itu juga detak jarum jam terdengar menyebalkan di telinga. Aku ingin kembali terlelap barang sepuluh menit, apa tidak bisa? Dengan malas aku terbangun dan duduk di kasur. Kata orang-orang, saat melamun kita cenderung tidak memikirkan apa-apa dan pikiran terasa melayang jauh entah ke mana. Tapi saat ini aku sedang melamun di atas kasur, menyadari bahwa pagi ini aku kehabisan bahan makanan di ...
Komentar
Posting Komentar